Lampung City Info — Jagat media sosial tengah ramai membahas daftar 40 “new media” atau media digital yang disebut menjadi mitra komunikasi publik Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI).
Daftar tersebut berisi sejumlah akun media digital dan akun media sosial besar dengan jutaan pengikut, mulai dari akun edukasi, hiburan, informasi publik, hingga media berbasis platform digital yang selama ini memiliki pengaruh besar di Instagram dan media sosial lainnya.
Beberapa nama yang ramai diperbincangkan di antaranya Narasi, USS Feed, Folkative, Kok Bisa?, Ngomongin Uang, hingga Bapak2ID.
Klarifikasi Sejumlah Akun Picu Sorotan Publik
Polemik semakin ramai setelah sejumlah akun yang namanya tercantum memberikan klarifikasi terbuka kepada publik.
Sebagian akun menyatakan tidak mengetahui keterlibatan mereka dalam forum tersebut, tidak pernah menghadiri pertemuan, hingga tidak pernah melakukan komunikasi dengan pihak terkait.
Beberapa akun bahkan memilih mundur dan menegaskan posisi mereka sebagai media independen yang menjaga jarak dengan kepentingan tertentu.
Klarifikasi tersebut kemudian memicu berbagai reaksi di media sosial. Kolom komentar dipenuhi beragam opini netizen, mulai dari yang mempertanyakan independensi media digital, membahas potensi penggiringan opini, hingga komentar yang menyebut publik kini akan mulai mengawasi arah narasi konten akun-akun besar ke depannya.
Era Media Sedang Berubah
Fenomena ini dinilai menjadi gambaran besar tentang perubahan dunia media di era digital saat ini.
Jika dahulu informasi didominasi televisi, radio, koran, dan portal berita konvensional, kini media sosial memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk opini publik.
Akun Instagram, TikTok, YouTube, hingga media digital independen kini mampu memiliki jutaan pengikut dan miliaran tayangan hanya melalui kekuatan algoritma dan distribusi konten digital.
Bahkan dalam beberapa kasus, pengaruh akun media sosial dinilai lebih besar dibanding media konvensional.
Hal inilah yang membuat istilah seperti “new media”, “media digital”, “media independen”, hingga “buzzer” semakin sering muncul dalam ruang publik Indonesia.
Followers Besar Tak Lagi Dianggap Cukup
Di tengah ramainya isu tersebut, banyak netizen mulai menilai bahwa jumlah followers besar tidak lagi cukup menjadi tanda sebuah media benar-benar independen atau terpercaya.
Publik kini mulai memperhatikan:
- arah framing berita,
- konsistensi narasi,
- keberpihakan informasi,
- hingga pola komunikasi media digital di ruang publik.
Komentar seperti:
“Nanti kelihatan narasinya kemana”
menjadi salah satu kalimat yang ramai muncul dan dianggap menggambarkan meningkatnya sikap kritis masyarakat terhadap media digital.
Publik Dituntut Lebih Kritis
Polemik ini juga menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu semakin cerdas dalam memilah informasi di era media sosial.
Publik kini dihadapkan pada tantangan untuk membedakan:
- berita dan opini,
- informasi dan propaganda,
- edukasi dan penggiringan opini,
- hingga media independen dan akun buzzer.
Karena di era algoritma saat ini, yang viral belum tentu paling benar, dan yang memiliki followers besar belum tentu selalu netral.
Di sisi lain, kepercayaan publik kini menjadi aset paling mahal bagi media digital di tengah persaingan informasi yang semakin cepat dan luas. (Red)












