LAMPUNG CITY INFO — MODEL pembangunan ekonomi di China sering dijadikan contoh bagaimana sebuah negara mampu mengubah industri kecil dan usaha rumahan menjadi mesin pertumbuhan nasional. Ketika banyak negara berkembang bertumpu pada konglomerasi besar dan investasi asing, Tiongkok justru membangun kekuatan ekonominya dari desa-desa produktif, industri keluarga, serta usaha mikro yang tumbuh menjadi bagian penting rantai produksi dunia.
Keberhasilan tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Pemerintah Tiongkok secara aktif membangun ekosistem ekonomi rakyat melalui dukungan modal, infrastruktur, logistik, teknologi, pelatihan tenaga kerja, hingga akses pasar ekspor. Negara hadir bukan sekadar sebagai regulator, melainkan sebagai pencipta pasar bagi rakyatnya sendiri.
Penelitian dalam jurnal BRQ Business Research Quarterly berjudul Internationalization of Chinese SMEs: The Role of Networks and Global Value Chains menjelaskan bahwa UMKM Tiongkok berkembang pesat karena dukungan jaringan industri dan integrasi dengan rantai pasok global (global value chains/GVCs). Penelitian tersebut menemukan bahwa usaha kecil di Tiongkok mampu menembus pasar internasional karena adanya dukungan ekosistem industri dan konektivitas pasar yang kuat. (Sage Journals)
Konsep itu diperkuat oleh penelitian Uneven but not Combined Development: Rural Industrialisation on the East Coast of China yang menjelaskan bahwa industrialisasi desa di Tiongkok tumbuh melalui dukungan negara terhadap kawasan produksi berbasis komunitas. Desa tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi berkembang menjadi pusat industri dan perdagangan. (Taylor & Francis Online)
Tiongkok bahkan membangun kawasan-kawasan industri berbasis desa. Ada wilayah yang fokus memproduksi tekstil, furnitur, alat rumah tangga, elektronik, makanan olahan, hingga kerajinan. Industri rumahan diberi akses mesin produksi, pelatihan digital, kemudahan logistik, dan jalur pemasaran nasional maupun internasional.
Penelitian From Privatization to Deindustrialization: Implications of Chinese Rural Industry menyebut bahwa pertumbuhan industri desa di Tiongkok selama hampir 30 tahun ditopang oleh dinamika ekonomi berbasis komunitas dan akses terhadap sumber daya lokal. Dukungan itu membuat industri rakyat mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi nasional. (ScienceDirect)
Sementara itu, penelitian The Land System and the Rise and Fall of China’s Rural Industrialization menegaskan bahwa kebangkitan industrialisasi desa Tiongkok pada era 1980-an sangat dipengaruhi kebijakan negara dalam pengelolaan lahan kolektif pedesaan. Negara memberi ruang besar bagi tumbuhnya industri rakyat berbasis komunitas. (Directory of Open Access Journals)
Dalam konteks perdagangan global, pemerintah Tiongkok juga serius membantu UMKM masuk ke pasar ekspor. Platform seperti Alibaba dan Taobao berkembang menjadi jembatan antara produsen kecil dengan pasar dunia. Banyak eksportir besar di Tiongkok berawal dari industri rumahan berskala kecil.
Penelitian Cuierzhuang Phenomenon: A Model of Rural Industrialization in North China menunjukkan bagaimana sebuah desa di Tiongkok mampu berkembang melalui pengolahan, pengemasan, dan penjualan produk pertanian secara digital lintas wilayah. Teknologi dan perdagangan online dipakai untuk menghubungkan rakyat desa dengan pasar nasional maupun internasional. (arXiv)
Negara menciptakan pasar. Negara melindungi produksi rakyat. Negara membantu rakyat menjual produknya.
Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kritik terhadap arah pembangunan nasional muncul karena kebijakan ekonomi dinilai terlalu berorientasi pada investasi besar, impor, dan pertumbuhan makro, sementara pengusaha kecil masih berjuang sendirian menghadapi persoalan klasik: sulit modal, mahal logistik, lemahnya perlindungan pasar, serta minim akses ekspor.
UMKM memang sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional, tetapi dalam praktiknya banyak pelaku usaha kecil belum benar-benar mendapatkan dukungan sistematis untuk naik kelas menjadi industri besar.
Penelitian dari Universitas Gadjah Mada berjudul Reorientasi Kebijakan UMKM di Era Asia China Free Trade Area (ACFTA) bahkan mengingatkan bahwa tanpa perlindungan dan penguatan kebijakan, produk lokal Indonesia akan sulit bersaing dengan produk Tiongkok. Penelitian itu menyoroti pentingnya revitalisasi kebijakan modal, dukungan pemerintah, dan penguatan komoditas lokal agar deindustrialisasi tidak terjadi di Indonesia. (Journal UGM)
Berbagai penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa pengembangan UMKM berbasis potensi desa mampu menjadi fondasi ekonomi rakyat. Penelitian Pengembangan UMKM Berbasis Potensi Lokal melalui Sinergi Pemasaran Inovatif dan Kebijakan Desa menegaskan bahwa potensi lokal desa dapat berkembang menjadi sumber keunggulan ekonomi jika didukung pemasaran, identitas produk, dan kebijakan pemerintah desa yang kuat. (eJournal Unitomo)
Sementara penelitian Peran Strategis Pemerintah Desa dalam Pengembangan UMKM untuk Penguatan Sektor Ekonomi Lokal menekankan bahwa pemerintah desa memiliki peran penting dalam membantu UMKM mengatasi hambatan modal, pemasaran, hingga akses usaha. (UNM Online Journal Systems)
Padahal Indonesia memiliki modal luar biasa untuk menjadi negara mandiri dan berdaulat menuju Indonesia Emas 2045.
Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, tanah subur, iklim tropis, kekayaan laut yang besar, serta bonus demografi yang sangat potensial. Lebih dari 64 juta UMKM tersebar di seluruh daerah dan menyerap mayoritas tenaga kerja nasional. Jika dikelola dengan benar, kekuatan ini bisa menjadi fondasi kebangkitan ekonomi nasional.
Indonesia sebenarnya mampu membangun model industri desa seperti Tiongkok.
Lampung dapat menjadi pusat industri singkong, kopi, dan pangan olahan. Jawa Tengah dapat memperkuat industri furnitur rakyat. Sulawesi mampu mengembangkan hilirisasi kakao dan hasil laut. Kalimantan memiliki potensi industri turunan hasil hutan dan pangan. Papua dapat menjadi pusat pengolahan sagu, perikanan, dan produk lokal bernilai tinggi.
Namun semua itu membutuhkan keberpihakan negara terhadap produksi rakyat.
Konsep swasembada pangan menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa yang mandiri. Tiongkok memahami bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi bagian dari kedaulatan negara. Karena itu pemerintah melindungi petani lokal, menjaga lahan produktif, dan mempertahankan produksi dalam negeri.
Sebaliknya, kritik di Indonesia muncul ketika impor pangan dianggap terlalu mudah dilakukan. Ketergantungan impor dinilai melemahkan petani dan produsen lokal karena pasar domestik dibanjiri produk luar.
Diskusi publik di berbagai forum masyarakat juga memperlihatkan keresahan terhadap sulitnya UMKM naik kelas akibat birokrasi, perpajakan, hingga lemahnya industrialisasi nasional. Banyak pelaku usaha menilai kebijakan ekonomi belum sepenuhnya menciptakan ruang aman bagi UMKM untuk berkembang menjadi industri besar. (Reddit)
Padahal bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri sekaligus menguasai produksi industrinya sendiri.
Indonesia memiliki semua syarat untuk mencapai swasembada pangan: lahan luas, iklim mendukung, sumber daya manusia besar, dan kekayaan hayati yang melimpah. Yang dibutuhkan adalah arah kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, koperasi, dan industri pangan rakyat.
Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan nasional tidak cukup hanya mengandalkan megaproyek, investasi asing, atau pertumbuhan angka statistik semata. Kemandirian bangsa harus dibangun dari bawah: dari desa yang produktif, petani yang kuat, nelayan yang sejahtera, dan UMKM yang mampu menjadi produsen serta eksportir dunia.
Negara perlu hadir secara nyata dengan membangun ekosistem produksi nasional: memperkuat koperasi modern, mempermudah akses modal, membangun logistik desa, melindungi pasar lokal, membatasi impor yang merusak produksi rakyat, serta membuka jalur ekspor bagi UMKM.
Produk lokal juga harus menjadi prioritas di pasar domestik. Pemerintah perlu menciptakan pasar nasional bagi rakyatnya sendiri melalui pengadaan barang, pusat perbelanjaan, hingga platform digital yang berpihak kepada produksi dalam negeri.
Pelajaran terbesar dari Tiongkok adalah bahwa kebangkitan ekonomi tidak dimulai dari ketergantungan terhadap produk luar, melainkan dari keberanian membangun kekuatan rakyat sendiri.
Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari gedung pencakar langit dan investasi besar. Indonesia Emas akan lahir ketika desa menjadi pusat produksi, petani menjadi tulang punggung pangan nasional, nelayan memiliki industri pengolahan modern, dan UMKM Indonesia mampu menguasai pasar domestik sekaligus bersaing di pasar global.
Karena pada akhirnya, bangsa yang benar-benar maju bukan bangsa yang hanya menjadi pasar bagi negara lain, melainkan bangsa yang mampu berdiri di atas produksi dan kekuatan rakyatnya sendiri.












