LampungLAMPUNG CITY INFO | OPINI

Gunawan Handoko: Bukan Sekadar Beasiswa, Sarjana STEM Harus Pulang Bangun Desa

25
×

Gunawan Handoko: Bukan Sekadar Beasiswa, Sarjana STEM Harus Pulang Bangun Desa

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG TIMUR | Lampung City Info — Program Satu Desa, Satu Sarjana STEM, dan Satu Hafidz yang diluncurkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada 27 Agustus 2026 di Lampung Timur dinilai sebagai langkah strategis untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul sekaligus mempercepat kemajuan desa.

Pengamat pendidikan sekaligus anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung, Gunawan Handoko, menilai program tersebut sejalan dengan semboyan “Lampung Maju”.

Menurutnya, Lampung Maju bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi juga tentang menghadirkan manusia Lampung yang cerdas, berakhlak, dan memiliki daya saing.

“Lampung Maju bukan hanya soal jalan mulus, tapi soal manusia Lampung yang maju: cerdas, berakhlak, dan berdaya saing,” ujar Gunawan.

Ia menilai target 2.500 Sarjana STEM dan 2.440 Hafidz merupakan investasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia Lampung menuju 2045.

Para lulusan STEM, kata Gunawan, diharapkan dapat menjadi penggerak inovasi di desa, mulai dari penerapan teknologi pertanian presisi, digitalisasi UMKM hingga pengembangan mesin dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Bukan lagi pembangunan dari atas, tapi inovasi yang tumbuh dari desa,” katanya.

Menurut Gunawan, pondasi Lampung Maju juga harus tetap berakar pada adat dan budaya lokal. Sarjana STEM diarahkan untuk memperkuat kecerdasan, nalar, teknologi dan kemajuan, sementara program Hafidz diharapkan memperkuat karakter serta spiritualitas generasi muda.

“Seperti kata Pak Gubernur, kita membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara nalar, tetapi juga tangguh hatinya,” ujarnya.

Sarjana Harus Punya Alasan untuk Pulang

Gunawan menilai tantangan program ini bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga memastikan mereka memiliki alasan kuat untuk kembali dan membangun desa.

Ia menyoroti banyak anak petani yang selama ini berjuang menempuh pendidikan tinggi di luar Lampung dengan biaya sendiri. Setelah lulus S1, sebagian justru enggan pulang karena khawatir ilmu yang diperoleh tidak memiliki ruang untuk diterapkan di desa.

“Bukan karena tidak cinta desanya, tapi karena takut ilmunya tidak terpakai,” kata Gunawan.

Karena itu, menurutnya, program 1 Desa 1 Sarjana STEM harus mampu membuktikan bahwa lulusan Sarjana Pertanian, Sarjana Mesin, maupun Sarjana Teknologi memiliki masa depan di desa.

Salah satu caranya adalah memberikan proyek nyata kepada mahasiswa sejak masih menempuh pendidikan.

Misalnya, mahasiswa dapat mengembangkan riset irigasi tetes di sawah milik keluarganya atau mengerjakan proyek teknologi yang menjawab persoalan di desa.

“Biar sejak semester 1 mereka sudah merasa ilmunya bermanfaat untuk desa,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, setelah lulus mereka tidak sekadar pulang sebagai “anak petani”, tetapi dapat hadir sebagai pimpinan inovasi desa atau direktur BUMDes.

Pilih Jurusan Sesuai Kebutuhan Desa

Gunawan juga menilai pemilihan jurusan harus menjadi perhatian penting dalam program tersebut.

Menurutnya, putra-putri desa perlu diarahkan mengambil bidang studi yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan dan potensi ekonomi desa.

Beberapa bidang yang dinilai relevan antara lain Agroindustri, Teknik Mesin Pertanian, Teknologi Pangan, Sistem Informasi untuk UMKM, serta Teknik Energi Terbarukan.

Selain beasiswa, Pemprov Lampung juga perlu mempertimbangkan penyediaan lahan praktik dan memastikan mahasiswa memiliki proyek yang terhubung langsung dengan kebutuhan desa.

Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti pada ruang kuliah, tetapi sejak awal sudah menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Usulkan Kontrak Pengabdian Tiga Tahun

Agar program tidak berhenti ketika penerima menyelesaikan pendidikan, Gunawan mengusulkan adanya kontrak pengabdian bagi para sarjana sebagai tenaga inovasi daerah dalam jangka waktu tertentu, misalnya tiga tahun.

Ia juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi negeri seperti Unila, Itera, dan Polinela, serta dunia usaha, Baznas dan tokoh adat dalam proses seleksi dan pengembangan program.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut dinilai penting agar proses seleksi berjalan transparan dan kredibel sekaligus tetap mempertimbangkan budaya lokal.

Pemprov dan Kabupaten/Kota Perlu Gotong Royong

Gunawan juga mengusulkan agar target 2.500 Sarjana STEM dan 2.440 Hafidz dapat dicapai melalui skema gotong royong antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan pemerintah kabupaten dan kota.

Dalam skema yang ditawarkannya, Pemprov Lampung dapat menanggung 50 persen biaya beasiswa, menyusun kurikulum serta membangun kerja sama dengan perguruan tinggi.

Sementara pemerintah kabupaten dan kota menanggung 50 persen sisanya, melakukan seleksi di tingkat desa serta menyiapkan program pengabdian bagi para lulusan.

Menurut Gunawan, pola tersebut akan membuat program lebih tepat sasaran karena pemerintah kabupaten dan kota lebih mengetahui potensi putra-putri terbaik di wilayah masing-masing, terutama anak petani dan keluarga kurang mampu.

Selain itu, keterlibatan pemerintah daerah dalam pembiayaan dan penyiapan tempat pengabdian diharapkan menumbuhkan rasa memiliki terhadap program.

“Karena kabupaten dan kota ikut membiayai, dan wajib menyiapkan tempat pengabdian bagi lulusannya, maka diharapkan akan tumbuh rasa memiliki,” katanya.

Desa Jangan Lagi Jadi Penonton

Gunawan menegaskan, keberhasilan program tersebut pada akhirnya akan terasa ketika anak-anak desa tidak lagi harus meninggalkan kampung halaman hanya untuk mencari masa depan.

Dengan bekal ilmu dan teknologi, mereka diharapkan mampu mengembangkan sawah, ladang, UMKM, serta berbagai potensi ekonomi di desa kelahirannya.

“Desa tidak lagi jadi penonton, tapi jadi sumber inovasi dan keberkahan bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap program Sarjana STEM dan Hafidz tersebut benar-benar dikawal bersama agar tidak berhenti sebagai program pendidikan, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan desa dan peningkatan kualitas manusia Lampung.

“Pemprov membuka jalan, Kabupaten dan Kota yang eksekusi sampai ke desa. Mari kita kawal dan dukung bersama,” pungkas Gunawan.