Sudut Pandang

Banjir di Bandar Lampung: Masalah Lama yang Terus Datang, Namun Belum Tuntas Diselesaikan

20
×

Banjir di Bandar Lampung: Masalah Lama yang Terus Datang, Namun Belum Tuntas Diselesaikan

Sebarkan artikel ini

BANDAR LAMPUNG — Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi kembali memunculkan persoalan yang belum sepenuhnya teratasi di Kota Tapis Berseri. Genangan air masih terlihat di sejumlah titik, bahkan hanya dalam waktu singkat setelah hujan turun.

Beberapa ruas jalan seperti di kawasan Kedamaian, termasuk Jalan Hayam Wuruk dan sekitarnya, kerap menjadi contoh bagaimana air dengan cepat menggenang dan menghambat aktivitas warga. Kondisi ini bukan sekali dua kali terjadi, melainkan berulang dalam pola yang hampir sama setiap kali hujan datang.

Situasi tersebut menimbulkan satu pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat: mengapa persoalan banjir di kota ini masih terus berulang?

Di satu sisi, upaya penanganan sebenarnya sudah terlihat. Pengerjaan drainase dilakukan di beberapa titik, perbaikan infrastruktur berjalan, dan perhatian terhadap persoalan banjir juga kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Namun di sisi lain, dampak dari upaya tersebut dinilai belum merata dan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.

Ketika hujan turun, kondisi di lapangan sering kali masih menunjukkan hal yang sama. Air menggenang, arus lalu lintas melambat, dan aktivitas warga terganggu. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan bukan terletak pada proses yang sedang berjalan, tetapi pada hasil yang benar-benar terasa.

Dalam konteks perkotaan, genangan air bukan hanya persoalan visual, melainkan berdampak langsung terhadap produktivitas dan kenyamanan. Waktu tempuh yang bertambah, risiko kendaraan mogok, hingga terganggunya aktivitas ekonomi menjadi konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.

Jika terjadi sekali, mungkin masih dapat dimaklumi sebagai faktor cuaca. Namun ketika pola ini berulang, muncul anggapan bahwa persoalan bukan semata pada intensitas hujan, melainkan pada sistem yang belum bekerja secara optimal.

Di sinilah letak tantangannya.

Pengelolaan drainase, perencanaan tata kota, serta pengawasan terhadap pelaksanaan proyek menjadi faktor penting yang saling berkaitan. Tanpa penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan, genangan air akan terus muncul di titik-titik yang sama.

Di sisi lain, peran masyarakat juga tidak bisa dilepaskan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan yang berpotensi menyumbat saluran air turut memperburuk kondisi di lapangan. Artinya, persoalan ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan kesadaran bersama.

Meski demikian, sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kota, pemerintah tetap menjadi aktor utama dalam memastikan sistem berjalan dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Hal yang kini menjadi perhatian adalah bagaimana setiap kejadian banjir tidak hanya berhenti pada penanganan sesaat, tetapi diikuti dengan evaluasi yang konsisten dan perbaikan yang terukur.

Karena selama genangan masih terus muncul di titik yang sama, masyarakat akan terus mempertanyakan efektivitas penanganan yang telah dilakukan.

Bandar Lampung terus berkembang sebagai kota. Aktivitas meningkat, mobilitas warga semakin tinggi, dan kebutuhan akan infrastruktur yang andal menjadi semakin mendesak.

Di tengah perkembangan tersebut, harapan masyarakat sebenarnya sederhana:

kota tetap dapat berfungsi dengan baik, bahkan saat hujan turun. (Red)