Bandar Lampung, 28 April 2026 — Polemik proyek irigasi senilai Rp97 miliar di Desa Bandar Anom, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji, kian memanas. Warga menilai proyek tersebut tidak memberi manfaat, sementara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung menegaskan proyek telah selesai dan berfungsi sesuai perencanaan.
Perbedaan klaim ini memicu adu narasi antara masyarakat dan pihak pelaksana. Bahkan, warga secara terbuka menantang BBWS untuk turun langsung ke lapangan guna membuktikan kondisi sebenarnya.
Andi, salah satu warga yang aktif menyoroti proyek tersebut, menyatakan siap mempertanggungjawabkan apa yang disampaikannya dan meminta pengecekan dilakukan secara bersama.
“Suruh temui saya saja bang, kita cek bareng di lapangan biar jelas. Ini bukan menantang, tapi saya mau mempertanggungjawabkan apa yang saya unggah,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (28/4/2026).
Menurut Andi, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan klaim yang disampaikan pihak terkait. Ia menilai bangunan irigasi tersebut belum memberikan dampak nyata bagi petani.
“Bangunan itu tidak berguna. Petani malah mengeluhkan banyaknya hama tikus yang bersarang di bawah bangunan itu,” tambahnya.
BBWS: Proyek Selesai, Bukan Mangkrak
Sebelumnya, dalam pertemuan di kantor BBWS Mesuji Sekampung di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, Senin (27/4/2026), pihak BBWS melalui Iwan Yuliansah memberikan klarifikasi.
Ia menjelaskan bahwa proyek peningkatan saluran primer irigasi tersebut merupakan program APBN dengan nilai sekitar Rp97 miliar dan panjang mencapai 93 kilometer. Proyek dimulai sejak Desember 2020 dan telah diselesaikan melalui serah terima pekerjaan (PHO) pada akhir 2023.
“Kalau disebut mangkrak, itu tidak benar. Ini ada videonya, bisa dilihat,” kata Iwan.
Menurutnya, persepsi bahwa proyek tidak berfungsi muncul karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap sistem irigasi, yang tidak selalu mengalirkan air setiap saat. Ia juga menyebut bahwa pemanfaatan sistem irigasi melibatkan peran aktif petani dalam pengelolaan distribusi air.
Klaim vs Realita, Siapa yang Benar?
Perbedaan antara klaim administratif dan kondisi yang dirasakan warga kini menjadi sorotan publik. Di satu sisi, proyek dinyatakan selesai dan sesuai perencanaan. Namun di sisi lain, masyarakat mengaku belum merasakan manfaatnya secara langsung.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah proyek tersebut benar-benar berfungsi optimal, atau justru belum berjalan sebagaimana mestinya di lapangan?
Publik Menunggu Pembuktian
Ajakan “cek bareng” yang disampaikan warga kini menjadi titik krusial dalam polemik ini. Publik menanti langkah konkret—bukan sekadar klarifikasi, tetapi pembuktian langsung di lapangan.
Apakah pihak BBWS akan memenuhi tantangan tersebut dan membuka fakta secara transparan?
Yang jelas, proyek bernilai Rp97 miliar ini kini bukan hanya soal pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik—antara laporan di atas kertas dan realitas yang dirasakan masyarakat. (Doko)












