Bandar LampungViral

Debu Jadi Sorotan, Minsa Ketua GRIB Jaya Panjang “Semprot” PT Semen Baturaja: “Mana Tanggung Jawab untuk Warga?

107
×

Debu Jadi Sorotan, Minsa Ketua GRIB Jaya Panjang “Semprot” PT Semen Baturaja: “Mana Tanggung Jawab untuk Warga?

Sebarkan artikel ini

BANDAR LAMPUNG | Lampung City Info — Keluhan warga terkait debu yang diduga berasal dari aktivitas operasional PT Semen Baturaja di Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, terus bergulir.

Kali ini, Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya PAC Panjang angkat bicara dan mendesak pihak perusahaan tidak menganggap persoalan tersebut sebagai keluhan biasa.

Ketua PAC GRIB Jaya Panjang, Minsa, meminta PT Semen Baturaja segera memberikan penjelasan terbuka sekaligus memastikan persoalan debu tidak kembali mengganggu masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan operasional.

“Kami dari GRIB Jaya PAC Panjang sangat menyayangkan adanya keluhan masyarakat terkait debu. Kalau memang benar ada kendala pada alat penangkap debu, ini bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Yang terdampak bukan mesin, tetapi masyarakat yang setiap hari menghirup udara di sekitar kawasan tersebut,”tegas Minsa.

Menurut Minsa, jika memang terdapat kendala pada peralatan pengendalian debu, perusahaan harus memastikan persoalan tersebut benar-benar diselesaikan sebelum aktivitas operasional kembali berjalan normal.

“Jangan sampai setelah alat diperbaiki kemudian aktivitas berjalan seperti biasa, sementara masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama. Perusahaan harus bisa memastikan bahwa pengendalian debu benar-benar berjalan dan tidak mengganggu lingkungan warga,” ujarnya.

Minta Pemerintah Jangan Hanya Turun Saat Viral

Minsa juga meminta pemerintah dan instansi terkait melakukan pengawasan secara berkelanjutan terhadap kondisi lingkungan di sekitar kawasan perusahaan.

Menurutnya, pengawasan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika keluhan masyarakat sudah ramai di media sosial.

“Kami minta pemerintah jangan hanya datang mengecek ketika masalah sudah ramai. Harus ada pengawasan yang berkelanjutan. Kalau ada potensi gangguan terhadap masyarakat, jangan menunggu warga kembali mengeluh atau videonya kembali viral baru bergerak,” tegasnya.

Sebelumnya, Camat Panjang Hendrik Satria Jaya telah menginstruksikan pihak kelurahan melakukan peninjauan ke lingkungan warga pada Kamis (6/8/2026).

Dari hasil koordinasi pihak kelurahan dengan PT Semen Baturaja, menurut keterangan Camat, pihak perusahaan menyampaikan adanya kendala teknis pada alat penangkap atau penyedot debu.

Pihak kecamatan kemudian meminta aktivitas yang berpotensi menimbulkan gangguan udara dihentikan sementara hingga peralatan tersebut diperbaiki.

Pemantauan kembali dilakukan pada Minggu (9/8/2026) oleh Camat bersama lurah, ketua RT dan warga. Saat pengecekan berlangsung, pihak kecamatan menyampaikan bahwa kegiatan operasional tidak sedang dilaksanakan.

GRIB Jaya Soroti CSR: Jangan Sekadar Formalitas

Tak hanya persoalan debu, GRIB Jaya PAC Panjang juga mempertanyakan sejauh mana CSR atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan benar-benar dirasakan masyarakat sekitar.

Minsa meminta perusahaan terbuka mengenai program CSR/TJSL yang telah dijalankan, penerima manfaat, serta bentuk nyata program tersebut bagi masyarakat sekitar kawasan operasional.

“CSR jangan hanya sekadar formalitas atau laporan administrasi. Masyarakat sekitar harus bisa merasakan manfaat nyata dari keberadaan perusahaan. Kami ingin tahu programnya apa, siapa yang menerima, bagaimana realisasinya, dan sejauh mana masyarakat sekitar dilibatkan,” kata Minsa.

Ia menegaskan, pihaknya tidak menolak investasi maupun keberadaan perusahaan.

Namun, menurut Minsa, aktivitas industri harus berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat dan lingkungan.

“Kami bukan anti-investasi dan bukan anti-perusahaan. Silakan perusahaan beroperasi dan berkembang, tetapi masyarakat sekitar juga jangan sampai hanya kebagian debu dan dampak industrinya. Kalau perusahaan mendapatkan manfaat dari aktivitas di wilayah ini, masyarakat juga harus merasakan manfaat keberadaannya,” tegasnya.

Minta Perusahaan Buka Data dan Penjelasan

Minsa juga mendesak PT Semen Baturaja memberikan penjelasan secara terbuka mengenai persoalan yang menjadi keluhan warga.

Mulai dari kendala teknis alat pengendali debu, proses perbaikan, hingga langkah pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

“Kami minta perusahaan jangan diam. Jelaskan kepada masyarakat apa yang sebenarnya terjadi, apa yang rusak, bagaimana perbaikannya, kapan selesai, dan apa jaminannya persoalan ini tidak terulang. Jangan biarkan masyarakat mendapatkan informasi hanya dari pihak lain,” ujarnya.

Sorotan terhadap persoalan debu tersebut sebelumnya juga disampaikan Wakil Panglima Mada Laskar Merah Putih Provinsi Lampung, Mulyadi Jas.

Mulyadi turut meminta perusahaan memperhatikan kondisi masyarakat sekitar dan menyoroti aspek CSR serta manfaat keberadaan perusahaan bagi warga.

PT Semen Baturaja Sedang Siapkan Jawaban

Sementara itu, Media telah meminta konfirmasi kepada pihak PT Semen Baturaja mengenai keluhan debu, kendala alat pengendali debu, proses perbaikan, langkah pencegahan, serta program CSR/TJSL perusahaan.

Konfirmasi tersebut diarahkan kepada Bagus dari bagian PGMR/CSR.

Pihak perusahaan telah merespons dan menyampaikan bahwa manajemen sedang menyiapkan jawaban resmi atas pertanyaan media.

Hingga berita ini ditayangkan, penjelasan substantif dari manajemen masih ditunggu.

Media tetap memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak PT Semen Baturaja.

Minsa: GRIB Jaya Akan Kawal Persoalan

Minsa menegaskan GRIB Jaya PAC Panjang akan terus memperhatikan perkembangan persoalan tersebut.

“Kami akan terus mengawal. Kalau memang persoalannya bisa diselesaikan dengan baik, tentu kami apresiasi. Tetapi kalau keluhan masyarakat tidak mendapatkan perhatian serius, kami tidak akan tinggal diam. Aspirasi masyarakat harus didengar,” pungkas Minsa.

Kini perhatian publik tertuju pada langkah PT Semen Baturaja dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

Apakah perbaikan alat pengendali debu akan segera diselesaikan? Bagaimana perusahaan memastikan keluhan serupa tidak kembali terjadi? Dan sejauh mana program CSR/TJSL benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar?

Media akan terus memantau perkembangan persoalan ini dan menyajikan informasi berdasarkan keterangan dari pihak-pihak terkait.

(TIM/RED)